02.01

Untuk Sindi Dwi Santika,
sebelum kamu membacanya.

Sindi Dwi Santika

02 Januari 2001

Ini bukan kejutan besar. Cuma catatan kecil dari orang yang selama ini diam-diam memperhatikan — dan akan terus begitu, dari jarak sejauh apapun.


Bagian Satu

Surat yang Tidak Pernah Kukirim

Tekan untuk membuka

Aku udah beberapa kali mulai nulis ini, terus hapus lagi. Rasanya semua kalimat kedengaran terlalu dibuat-buat, padahal yang mau aku bilang sebenarnya sederhana.

Jarak kita jauh, beda negara, dan itu bukan hal kecil. Tapi dari jauh ini, aku tetap bisa lihat kamu — cara kamu tetap kerja keras walau capek, cara kamu tetap nanggung jawab meski lagi kesal sama keadaan, cara kamu tetap nanyain kabar orang lain duluan sebelum ngurus dirimu sendiri.

Aku nggak mau bilang kamu sempurna, karena bukan itu alasan aku bertahan sejauh ini. Aku di sini karena kamu — versi yang capek, yang keras kepala, yang kadang lupa istirahat — tetap orang yang aku pilih untuk terus diperhatikan, walau dari jarak yang nggak pernah pendek.

Dan karena aku tahu kamu nggak bisa dipisahin dari orang yang membentukmu jadi begini, aku juga mau cerita sedikit soal beliau.

— tertulis, untuk hari ini saja


Bagian Dua

Untuk Cinta Pertamamu

Aku nggak pernah kenal Bapak secara langsung, tapi aku kenal beliau lewat caramu bercerita — dan lewat caramu menjalani hidup.

Ada bagian dari dirimu yang aku yakin warisan langsung dari beliau: kerja kerasmu, rasa tanggung jawab yang nggak pernah kamu lepas — bahkan waktu kamu capek, bahkan waktu kamu kesal sama pekerjaanmu sendiri, kamu tetap nunjukin yang terbaik dan nggak pernah kabur dari tanggung jawab. Terima kasih sudah membesarkan orang yang sekarang aku kenal dan percayai.

Semoga hari ini, di manapun beliau berada, ikut merayakan kamu dengan caranya sendiri. Dan mungkin beliau juga akan bangga kalau tahu — aku ada di sepanjang perjalanan yang aku catat di bawah ini.


Bagian Tiga

Catatan Perjalanan Kita

Entri 01 September 2018
Hari Pertama Kita Benar-Benar Ketemu

Waktu itu bukan cuma kita berdua yang jalan bareng, tapi entah kenapa dari semua hari itu, ini yang paling aku inget. Sebelumnya aku sempat mikir ini bakal canggung — jarak dua tahun itu kerasa lumayan jauh buatku, dan aku takut kamu ngerasa ini nggak seseru yang kamu bayangin. Ternyata salah. Kamu malah banyak cerita, ketawa lepas, jadi diri sendiri tanpa harus jaga image atau pura-pura jadi orang lain. Dari situ aku tau kamu nyaman di dekatku — dan itu yang bikin hari itu berharga, sampai sekarang masih aku inget jelas.

Entri 02 2019
Perpisahan yang Ternyata Bukan Akhir

Hari itu perpisahan sekolah — dan diam-diam, aku pikir itu juga bakal jadi perpisahan kita. Sebelumnya kita sering berangkat bareng, papasan di sekolah, pulang bareng — hal-hal kecil yang aku pikir bakal cuma tinggal kenangan setelah hari itu. Di sana juga ada dua "pertama kali" yang aku inget jelas sampai sekarang: pertama kalinya aku ngasih bunga & coklat ke cewek, dan pertama kalinya aku salaman sama mama kamu. Ternyata dugaanku salah. Itu bukan akhir — justru awal dari perjalanan yang sebenarnya.

Entri 03 2020 - 2022
Saat Kamu Harus Kuat Sendirian

Ini mungkin titik terberat buat kamu, dan buat kita. Pandemi datang bawa banyak hal keruh sekaligus — ekonomi, keuangan, pekerjaan, juga hubungan kita ikut kena imbasnya. Kamu harus berjuang untuk diri sendiri, untuk orang tua, untuk orang-orang terdekat, hampir semuanya sendirian. Kondisimu drop sampai harus check up rutin tiap bulan. Setelah kehilangan Bapak, ini jadi masa terburuk yang aku tau kamu lewati. Aku nggak bisa bilang aku ngerti semua yang kamu rasain waktu itu — tapi aku inget, dan aku nggak akan pernah lupa seberapa berat itu buat kamu.

Entri 04 2022
Pelan-Pelan, Kamu Bangkit

Setelah masa seberat itu, ini foto yang suka aku lihat ulang kalau butuh diingetin bahwa kamu bisa. Keuangan mulai membaik, ekonomi pelan-pelan stabil, dan yang paling aku syukuri — check up bulanan yang dulu jadi rutinitas, sekarang udah nggak perlu lagi. Berat badanmu naik signifikan, dan buatku itu bukan cuma soal angka di timbangan. Itu tanda kamu mulai sembuh — mulai makan dan istirahat dengan benar lagi, mulai ngerawat diri kamu sendiri seperti kamu selama ini ngerawat orang lain.

Entri 05 2023
Titik di Mana Kamu Benar-Benar Pulih

Kalau Entri 03 itu titik terberatmu, ini titik di mana aku bisa bilang kamu benar-benar sembuh. Kamu mulai rutin olahraga ringan tiap pagi di rumah, badan makin sehat, dan — ini yang paling aku suka lihat — kamu keliatan lebih hidup. Bukan cuma fisik yang membaik, satu per satu impian dan keinginanmu juga mulai tercapai. Rasanya kayak semesta akhirnya ganti giliran, ngasih kamu hal-hal baik setelah lama kamu nahan yang berat sendirian.

Entri 06 April 2024
Saat Kamu Berangkat, Jarak Kita Ikut Berubah

Ini foto pertama kamu kerja di luar negeri. Setelah banyak pertimbangan, banyak rintangan, dan perjuangan yang nggak keliatan dari luar, kamu akhirnya dapet pekerjaan yang dulu cuma jadi impian waktu masih di dalam negeri. Aku bangga — tapi jujur, ini juga awal dari hal baru buat kita: jarak yang nggak dekat, dan nggak mudah dilewati. Sejak foto ini diambil, "jauh" bukan lagi kata kiasan buat kita. Tapi ngeliat kamu bisa nyampe di titik ini, sendirian, dengan segala usaha yang kamu lakuin — itu bikin jaraknya kerasa pantas diperjuangkan.

Entri 07 2024
Kebaya yang Sama Ceritanya, Beda Momennya

Terakhir kali kamu pakai kebaya, itu waktu perpisahan sekolah — momen yang aku kira bakal jadi akhir cerita kita. Kali ini beda. Aku yang bantu pesenin kebayanya, sesuai apa yang kamu mau, dan ngeliat kamu pakai itu lagi rasanya seperti nutup lingkaran yang sempat aku kira udah selesai dulu. Ternyata masih berlanjut, dan kali ini aku ikut ambil bagian di dalamnya.

Entri 08 2025
Hal Kecil yang Ternyata Besar Buatmu

Ini keliatannya cuma foto biasa, tapi aku inget ini momen pertama kamu berani pakai rok keluar rumah — sesuatu yang dulu paling kamu hindarin. Buat orang lain mungkin ini nggak penting. Tapi buatku, ini tanda kamu makin kenal dan makin nyaman sama diri sendiri, makin percaya diri jadi versi kamu yang mana pun. Dan itu, buatku, jauh lebih berarti dari sekadar soal baju.

Entri 09 2025
Warna-Warna yang Dulu Kamu Hindari

Dari rok, sekarang kamu mulai berani ke warna. Dulu kamu lebih sering pakai warna gelap — bukan karena suka, tapi karena belum cukup percaya diri buat pakai yang cerah. Sekarang aku liat kamu mulai suka pink, merah, cream, warna-warna yang dulu kamu hindarin. Kelihatan sepele, tapi buatku ini kelanjutan dari cerita yang sama: kamu makin berani jadi diri sendiri, tanpa perlu sembunyi di balik warna gelap lagi.

Entri 10 2026
Dukungan, Bukan Kekangan

Ternyata kita sama-sama suka kegiatan di alam. Waktu masih nggak LDR, kita sering ke luar bareng — dan bahkan pas jauh pun, aku nggak pernah pengen ngekang kamu soal ini. Selama jelas ke mana, sama siapa, dan berapa lama, aku selalu dukung. Buatku, sayang yang beneran itu bukan soal ngatur-ngatur, tapi soal percaya. Jadi aku nggak akan larang kamu ngelakuin hal yang bikin kamu bisa napas lega dari rutinitas — asal kejelasannya tetap ada.

Entri 11 2026
Dan Sekarang, Melihatmu di Sini

Kalau aku bandingin foto ini sama Entri 03 — kamu yang dulu harus berjuang sendirian, drop, sampai check up tiap bulan — rasanya kayak liat dua orang yang beda, padahal itu kamu yang sama. Sekarang aku liat kamu kerja, berdiri tegak, percaya diri, dengan segala kerja keras dan tanggung jawab yang selalu kamu pegang — persis seperti yang aku bilang soal Bapak kamu. Dari sini, dari titik ini, aku cuma mau bilang: aku bangga sama perjalanan yang udah kamu tempuh sampai sekarang. Dan karena aku udah lihat sejauh mana kamu berjuang, izinkan aku titip beberapa doa untuk langkah selanjutnya.


Bagian Empat

Doa dan Harapan

Aku bukan orang yang pandai berdoa panjang-panjang, jadi aku titip yang paling penting dulu: semoga kesehatanmu dijaga, semoga tubuh yang dulu pernah drop itu nggak pernah harus sekuat itu lagi sendirian — karena sekarang, ada aku yang ikut mikirin.

Semoga kerja kerasmu selama ini nggak sia-sia — semoga rezekimu lancar, karirmu terus naik, dan semua yang kamu perjuangkan sendirian itu akhirnya kebayar dengan hasil yang setimpal.

Dan yang paling aku harap: semoga jarak yang sekarang kita jalani ini nggak lama-lama, dan semoga kita berdua dikasih kesempatan buat terus jalan bareng, di titik manapun hidup kita nanti.

Dan kalau suatu hari doa-doa ini belum terjawab semua, aku mau kamu tahu — aku tetap di sini, ikut menunggu bersamamu, bukan cuma menonton dari jauh.

— didoakan diam-diam, setiap hari


Bagian Lima

Untuk Kamu di Hari yang Berat

Kalau kamu baca ini bukan hari ini — kalau kamu bukanya pas lagi capek, atau lagi ngerasa semua terlalu berat — aku mau kamu tahu satu hal.

Kamu nggak harus selalu kuat. Kamu boleh berhenti sebentar, boleh nangis, boleh nggak baik-baik aja tanpa harus jelasin ke siapa-siapa.

Aku tau waktu kamu capek, kesel, marah, sedih, atau lagi ngerasain hal nggak enak lainnya, kamu tetap jalan terus — pelan-pelan, tanpa nunggu ditepuk tangani. Itu yang aku lihat dari kamu, jauh sebelum orang lain lihat.

Jadi kalau hari ini salah satu hari itu: nggak apa-apa. Aku masih di sini, dan aku masih percaya sama kamu — bahkan versi kamu yang lagi nggak percaya diri sendiri.

Kamu nggak pernah benar-benar sendirian di titik manapun cerita ini — aku ada di setiap entri di atas, dan aku masih akan ada di entri-entri yang belum ditulis.

— baca ulang kapan pun kamu butuh, aku nggak akan ke mana-mana


Penutup

Satu Hal Terakhir

Sebelum kamu menutup halaman ini.

Aku nggak akan bilang tahun ini akan mudah, karena aku nggak bisa janji itu. Yang aku tahu, aku bersyukur bisa mengenalmu sejauh ini, dan aku masih mau ada di tahun-tahun berikutnya — yang mudah maupun yang berat.

Selamat ulang tahun, Sindi. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, dan terima kasih sudah mengizinkan aku ikut jadi bagian dari perjalanan itu.

— dari orang yang masih, dan akan terus, di sini

P.S. — kadonya masih otw, maklum LDR beda negara, pengirimannya agak lama. Sabar ya, dijamin sampai.