Waktu itu bukan cuma kita berdua yang jalan bareng, tapi entah kenapa dari semua hari itu, ini yang paling aku inget. Sebelumnya aku sempat mikir ini bakal canggung — jarak dua tahun itu kerasa lumayan jauh buatku, dan aku takut kamu ngerasa ini nggak seseru yang kamu bayangin. Ternyata salah. Kamu malah banyak cerita, ketawa lepas, jadi diri sendiri tanpa harus jaga image atau pura-pura jadi orang lain. Dari situ aku tau kamu nyaman di dekatku — dan itu yang bikin hari itu berharga, sampai sekarang masih aku inget jelas.
02 Januari · Untukmu
Sindi Dwi Santika
Sebuah catatan kecil, dari orang yang selama ini diam-diam memperhatikan.
Sindi Dwi Santika
02 Januari 2001
Ini bukan kejutan besar. Cuma catatan kecil dari orang yang selama ini diam-diam memperhatikan — dan akan terus begitu, dari jarak sejauh apapun.
Bagian Satu
Surat yang Tidak Pernah Kukirim
Bagian Dua
Untuk Cinta Pertamamu
Aku nggak pernah ketemu Bapak, tapi aku merasa cukup kenal beliau — bukan dari cerita panjang, karena katamu sendiri kalian jarang benar-benar ngobrol. Obrolan kalian paling sering cuma soal salat, makan, hal-hal kecil yang wajib diingetin. Bapak orangnya dingin, katamu. Tapi di balik dingin itu, ada cara peduli yang nggak butuh banyak kata.
Kamu pernah cerita, kamu sering banget mimpiin Bapak. Tapi di setiap mimpi itu beliau cuma hadir — nggak pernah ngomong apa-apa. Aku nggak tahu itu artinya apa, dan rasanya memang bukan tempatku buat menebak. Tapi setiap kali kamu cerita tentang mimpi itu, aku selalu kepikiran satu hal: bahkan di sana pun, beliau masih hadir dengan cara yang sama seperti yang kamu ceritakan selama ini — diam, tapi ada.
Kamu juga pernah bilang, penampilanku mirip banget sama Bapak. Aku nggak selalu tau harus gimana dengar itu — antara bangga dan sedikit takut nggak pantas dibandingin. Tapi kalau itu bikin kamu ngerasa ada bagian dari beliau yang masih dekat, aku nggak keberatan jadi pengingat itu, sekecil apapun caranya.
Dan satu hal yang aku yakin warisan langsung dari beliau: kerja kerasmu, tanggung jawab yang nggak pernah kamu lepas — bahkan waktu capek, bahkan waktu kesal sama pekerjaan sendiri, kamu tetap nunjukin yang terbaik. Mungkin itu nggak didapat dari banyak obrolan. Mungkin itu didapat dari ngeliat langsung, diam-diam — seperti caranya Bapak.
Semoga hari ini, di manapun beliau berada, ikut ngeliat kamu — meski, seperti biasanya, mungkin nggak akan bilang apa-apa. Dan kalau boleh beliau tau, aku ada di sepanjang perjalanan yang aku catat di bawah ini.
Bagian Tiga
Catatan Perjalanan Kita
Hari itu perpisahan sekolah — dan diam-diam, aku pikir itu juga bakal jadi perpisahan kita. Sebelumnya kita sering berangkat bareng, papasan di sekolah, pulang bareng — hal-hal kecil yang aku pikir bakal cuma tinggal kenangan setelah hari itu. Di sana juga ada dua "pertama kali" yang aku inget jelas sampai sekarang: pertama kalinya aku ngasih bunga & coklat ke cewek, dan pertama kalinya aku salaman sama mama kamu. Ternyata dugaanku salah. Itu bukan akhir — justru awal dari perjalanan yang sebenarnya.
Ini mungkin titik terberat buat kamu, dan buat kita. Pandemi datang bawa banyak hal keruh sekaligus — ekonomi, keuangan, pekerjaan, juga hubungan kita ikut kena imbasnya. Kamu harus berjuang untuk diri sendiri, untuk orang tua, untuk orang-orang terdekat, hampir semuanya sendirian. Kondisimu drop sampai harus check up rutin tiap bulan. Setelah kehilangan Bapak, ini jadi masa terburuk yang aku tau kamu lewati. Aku nggak bisa bilang aku ngerti semua yang kamu rasain waktu itu — tapi aku inget, dan aku nggak akan pernah lupa seberapa berat itu buat kamu.
Setelah masa seberat itu, ini foto yang suka aku lihat ulang kalau butuh diingetin bahwa kamu bisa. Keuangan mulai membaik, ekonomi pelan-pelan stabil, dan yang paling aku syukuri — check up bulanan yang dulu jadi rutinitas, sekarang udah nggak perlu lagi. Berat badanmu naik signifikan, dan buatku itu bukan cuma soal angka di timbangan. Itu tanda kamu mulai sembuh — mulai makan dan istirahat dengan benar lagi, mulai ngerawat diri kamu sendiri seperti kamu selama ini ngerawat orang lain.
Kalau Entri 03 itu titik terberatmu, ini titik di mana aku bisa bilang kamu benar-benar sembuh. Kamu mulai rutin olahraga ringan tiap pagi di rumah, badan makin sehat, dan — ini yang paling aku suka lihat — kamu keliatan lebih hidup. Bukan cuma fisik yang membaik, satu per satu impian dan keinginanmu juga mulai tercapai. Rasanya kayak semesta akhirnya ganti giliran, ngasih kamu hal-hal baik setelah lama kamu nahan yang berat sendirian.
Ini foto pertama kamu kerja di luar negeri. Setelah banyak pertimbangan, banyak rintangan, dan perjuangan yang nggak keliatan dari luar, kamu akhirnya dapet pekerjaan yang dulu cuma jadi impian waktu masih di dalam negeri. Aku bangga — tapi jujur, ini juga awal dari hal baru buat kita: jarak yang nggak dekat, dan nggak mudah dilewati. Sejak hari itu, "jauh" bukan lagi kata kiasan buat kita. Tapi ngeliat kamu bisa nyampe di titik ini, sendirian, dengan segala usaha yang kamu lakuin — itu bikin jaraknya kerasa pantas diperjuangkan.
Ini keliatannya cuma foto biasa, tapi aku inget ini momen pertama kamu berani pakai rok keluar rumah — sesuatu yang dulu paling kamu hindarin. Buat orang lain mungkin ini nggak penting. Tapi buatku, ini tanda kamu makin kenal dan makin nyaman sama diri sendiri, makin percaya diri jadi versi kamu yang mana pun. Dan itu, buatku, jauh lebih berarti dari sekadar soal baju.
Dulu kamu lebih sering memilih warna gelap. Sekarang aku mulai lihat pink, merah, cream, dan warna-warna yang dulu hampir nggak pernah kamu pilih. Kelihatannya kecil. Tapi setelah tahu ceritamu, aku tahu ini bukan cuma soal warna.
Ternyata kita sama-sama suka kegiatan di alam. Dulu kita masih bisa pergi bareng, sekarang kadang aku cuma bisa dengar ceritanya dari jauh. Dan anehnya, jarak justru ngajarin aku sesuatu: sayang nggak selalu berarti harus ikut di setiap langkahmu. Kadang cukup tahu kamu pergi dengan senang, pulang dengan selamat, lalu cerita semuanya ke aku setelahnya. Aku nggak mau dunia kamu mengecil cuma karena sekarang kita berjauhan. Aku tetap mau lihat kamu punya banyak tempat untuk didatangi, banyak hal untuk dicoba, dan banyak cerita baru buat dibawa pulang.
Kalau aku bandingin foto ini sama Entri 03 — kamu yang dulu harus berjuang sendirian, drop, sampai check up tiap bulan — rasanya kayak liat dua orang yang beda, padahal itu kamu yang sama. Sekarang aku liat kamu kerja, berdiri tegak, percaya diri, dengan segala kerja keras dan tanggung jawab yang selalu kamu pegang — persis seperti yang aku bilang soal Bapak kamu. Dari sini, dari titik ini, aku cuma mau bilang: aku bangga sama perjalanan yang udah kamu tempuh sampai sekarang.
Aku belum punya foto untuk bagian ini. Bukan karena ceritanya berhenti di sini, tapi karena momennya memang belum terjadi.
Mungkin tahun depan. Mungkin beberapa tahun lagi. Aku nggak tahu akan seperti apa hidup kita waktu foto berikutnya diambil.
Tapi setelah semua yang ada di halaman ini, aku masih berharap akan ada banyak tanggal, banyak foto, dan banyak cerita yang suatu hari bisa ditambahkan di sini.
— untuk sesuatu yang belum terjadi, tapi masih ingin aku tunggu
Di Antara Semua Cerita
Hal-Hal Kecil yang Masih Aku Ingat
Nggak semuanya punya foto, tanggal, atau cerita besar. Tapi entah kenapa, justru yang seperti ini yang sering muncul sendiri di kepala.
Cara kamu cerita hal yang sebenarnya udah pernah kamu ceritain sebelumnya, tapi tetap excited seolah aku baru dengar pertama kali.
Ngigo kamu yang kadang bikin aku cuma bisa diem sambil ketawa sendiri.
Jalan random tanpa tujuan, terus ujung-ujungnya cuma cari jajan atau makan malam.
Masa kita pernah jualan es teh bareng — sesuatu yang sederhana, tapi entah kenapa masih gampang banget aku inget.
Cara kamu tetap punya banyak hal untuk diceritakan, bahkan di hari ketika sebenarnya kamu sendiri lagi capek.
Dan ini baru lima. Yang lainnya nggak aku tulis semua — nanti kamu besar kepala.
Bagian Empat
Doa dan Harapan
Aku bukan orang yang pandai berdoa panjang-panjang, jadi aku titip yang paling penting dulu: kesehatanmu. Tubuh yang dulu pernah drop itu, aku nggak mau dia harus sekuat itu lagi sendirian — sekarang ada aku yang ikut mikirin, ikut nanya udah makan belum, udah istirahat belum.
Rezeki dan karirmu juga aku titip. Kamu udah kerja keras dari titik yang paling susah — aku cuma berharap semua itu akhirnya kebayar, bukan cuma lunas.
Yang paling sering aku pikirin diam-diam: jarak ini. Aku pengen kita dikasih kesempatan buat jalan bareng lagi, di titik manapun hidup kita nanti — bukan cuma lewat panggilan telepon atau video, tapi beneran, di ruang yang sama.
Aku juga tahu nggak semua doa dijawab secepat yang kita mau. Jadi kalau nanti masih ada yang harus ditunggu — kesehatan, rezeki, atau bahkan jarak ini — aku nggak mau kamu merasa nunggu sendirian. Aku ikut nunggu jawabannya bareng kamu.
— ditulis sambil ikut berharap, bukan cuma ikut berdoa
Catatan Kecil
Kalau Suatu Hari Kamu Lupa...
Kalau kamu lupa seberapa jauh kamu sudah berjalan, coba lihat lagi foto pertama dan foto terakhir di halaman ini.
Kalau kamu lupa kamu pernah sekuat apa, ingat lagi semua hal yang dulu kamu pikir nggak akan bisa kamu lewati.
Kalau kamu lupa kalau hidupmu pernah berubah sejauh ini, scroll sedikit ke atas. Aku sudah menyimpan beberapa buktinya di sana.
Dan kalau kamu lupa ada orang yang bangga sama kamu...
ya, masa harus aku tulis lagi?
Bagian Lima
Untuk Kamu di Hari yang Berat
Kalau kamu buka bagian ini bukan hari ini — tapi di salah satu hari ketika semuanya terasa lebih berat dari biasanya — aku cuma mau kamu ingat satu hal.
Kamu nggak harus selalu kuat. Kamu boleh capek, boleh nangis, boleh berhenti sebentar, tanpa harus menjelaskan semuanya ke siapa-siapa.
Dan kalau saat itu aku nggak ada di depan kamu, coba lakukan satu hal yang biasanya kita lakukan berdua.
Kait kelingking, kait telunjuk, kait jempol, bentuk love, terus cium tangan. Aku tahu rasanya beda kalau dilakukan sendirian.
Tapi lakukan aja. Aku janji, itu tetap sampai.
— salam kita, dari jarak manapun
Penutup
Satu Hal Terakhir
Sebelum kamu menutup halaman ini.