Bagian Satu
Surat yang Tidak Pernah Kukirim
Tekan untuk membuka
Aku udah beberapa kali mulai nulis ini, terus hapus lagi. Rasanya semua kalimat kedengaran terlalu dibuat-buat,
padahal yang mau aku bilang sebenarnya sederhana.
Jarak kita jauh, beda negara, dan itu bukan hal kecil. Tapi dari jauh ini, aku tetap bisa lihat kamu — cara
kamu tetap kerja keras walau capek, cara kamu tetap nanggung jawab meski lagi kesal sama keadaan, cara kamu
tetap nanyain kabar orang lain duluan sebelum ngurus dirimu sendiri.
Aku nggak mau bilang kamu sempurna, karena bukan itu alasan aku bertahan sejauh ini. Aku di sini karena kamu —
versi yang capek, yang keras kepala, yang kadang lupa istirahat — tetap orang yang aku pilih untuk terus
diperhatikan, walau dari jarak yang nggak pernah pendek.
Dan karena aku tahu kamu nggak bisa dipisahin dari orang yang membentukmu jadi begini, aku juga mau cerita
sedikit soal beliau.
— tertulis, untuk hari ini saja
Bagian Tiga
Catatan Perjalanan Kita
Entri 01
September 2018
Hari Pertama Kita Benar-Benar Ketemu
Waktu itu bukan cuma kita berdua yang jalan bareng, tapi entah kenapa dari semua hari itu,
ini yang paling aku inget. Sebelumnya aku sempat mikir ini bakal canggung — jarak dua tahun itu kerasa lumayan
jauh buatku, dan aku takut kamu ngerasa ini nggak seseru yang kamu bayangin. Ternyata salah. Kamu malah banyak
cerita, ketawa lepas, jadi diri sendiri tanpa harus jaga image atau pura-pura jadi orang lain. Dari situ aku tau
kamu nyaman di dekatku — dan itu yang bikin hari itu berharga, sampai sekarang masih aku inget jelas.
Entri 02
2019
Perpisahan yang Ternyata Bukan Akhir
Hari itu perpisahan sekolah — dan diam-diam, aku pikir itu juga bakal jadi perpisahan kita.
Sebelumnya kita sering berangkat bareng, papasan di sekolah, pulang bareng — hal-hal kecil yang aku pikir bakal
cuma tinggal kenangan setelah hari itu. Di sana juga ada dua "pertama kali" yang aku inget jelas sampai
sekarang: pertama kalinya aku ngasih bunga & coklat ke cewek, dan pertama kalinya aku salaman sama mama kamu.
Ternyata
dugaanku salah. Itu bukan akhir — justru awal dari perjalanan yang sebenarnya.
Entri 03
2020 - 2022
Saat Kamu Harus Kuat Sendirian
Ini mungkin titik terberat buat kamu, dan buat kita. Pandemi datang bawa banyak hal keruh
sekaligus — ekonomi, keuangan, pekerjaan, juga hubungan kita ikut kena imbasnya. Kamu harus berjuang untuk diri
sendiri, untuk orang tua, untuk orang-orang terdekat, hampir semuanya sendirian. Kondisimu drop sampai harus
check up rutin tiap bulan. Setelah kehilangan Bapak, ini jadi masa terburuk yang aku tau kamu lewati. Aku nggak
bisa bilang aku ngerti semua yang kamu rasain waktu itu — tapi aku inget, dan aku nggak akan pernah lupa
seberapa berat itu buat kamu.
Entri 04
2022
Pelan-Pelan, Kamu Bangkit
Setelah masa seberat itu, ini foto yang suka aku lihat ulang kalau butuh diingetin bahwa
kamu bisa. Keuangan mulai membaik, ekonomi pelan-pelan stabil, dan yang paling aku syukuri — check up bulanan
yang dulu jadi rutinitas, sekarang udah nggak perlu lagi. Berat badanmu naik signifikan, dan buatku itu bukan
cuma soal angka di timbangan. Itu tanda kamu mulai sembuh — mulai makan dan istirahat dengan benar lagi, mulai
ngerawat diri kamu sendiri seperti kamu selama ini ngerawat orang lain.
Entri 05
2023
Titik di Mana Kamu Benar-Benar Pulih
Kalau Entri 03 itu titik terberatmu, ini titik di mana aku bisa bilang kamu benar-benar
sembuh. Kamu mulai rutin olahraga ringan tiap pagi di rumah, badan makin sehat, dan — ini yang paling aku suka
lihat — kamu keliatan lebih hidup. Bukan cuma fisik yang membaik, satu per satu impian dan keinginanmu juga
mulai tercapai. Rasanya kayak semesta akhirnya ganti giliran, ngasih kamu hal-hal baik setelah lama kamu nahan
yang berat sendirian.
Entri 06
April 2024
Saat Kamu Berangkat, Jarak Kita Ikut Berubah
Ini foto pertama kamu kerja di luar negeri. Setelah banyak pertimbangan, banyak rintangan,
dan perjuangan yang nggak keliatan dari luar, kamu akhirnya dapet pekerjaan yang dulu cuma jadi impian waktu
masih di dalam negeri. Aku bangga — tapi jujur, ini juga awal dari hal baru buat kita: jarak yang nggak dekat,
dan nggak mudah dilewati. Sejak foto ini diambil, "jauh" bukan lagi kata kiasan buat kita. Tapi ngeliat kamu
bisa nyampe di titik ini, sendirian, dengan segala usaha yang kamu lakuin — itu bikin jaraknya kerasa pantas
diperjuangkan.
Entri 07
2024
Kebaya yang Sama Ceritanya, Beda Momennya
Terakhir kali kamu pakai kebaya, itu waktu perpisahan sekolah — momen yang aku kira bakal
jadi akhir cerita kita. Kali ini beda. Aku yang bantu pesenin kebayanya, sesuai apa yang kamu mau, dan ngeliat
kamu pakai itu lagi rasanya seperti nutup lingkaran yang sempat aku kira udah selesai dulu. Ternyata masih
berlanjut, dan kali ini aku ikut ambil bagian di dalamnya.
Entri 08
2025
Hal Kecil yang Ternyata Besar Buatmu
Ini keliatannya cuma foto biasa, tapi aku inget ini momen pertama kamu berani pakai rok
keluar rumah — sesuatu yang dulu paling kamu hindarin. Buat orang lain mungkin ini nggak penting. Tapi buatku,
ini tanda kamu makin kenal dan makin nyaman sama diri sendiri, makin percaya diri jadi versi kamu yang mana pun.
Dan itu, buatku, jauh lebih berarti dari sekadar soal baju.
Entri 09
2025
Warna-Warna yang Dulu Kamu Hindari
Dari rok, sekarang kamu mulai berani ke warna. Dulu kamu lebih sering pakai warna gelap —
bukan karena suka, tapi karena belum cukup percaya diri buat pakai yang cerah. Sekarang aku liat kamu mulai suka
pink, merah, cream, warna-warna yang dulu kamu hindarin. Kelihatan sepele, tapi buatku ini kelanjutan dari
cerita yang sama: kamu makin berani jadi diri sendiri, tanpa perlu sembunyi di balik warna gelap lagi.
Entri 10
2026
Dukungan, Bukan Kekangan
Ternyata kita sama-sama suka kegiatan di alam. Waktu masih nggak LDR, kita sering ke luar
bareng — dan bahkan pas jauh pun, aku nggak pernah pengen ngekang kamu soal ini. Selama jelas ke mana, sama
siapa, dan berapa lama, aku selalu dukung. Buatku, sayang yang beneran itu bukan soal ngatur-ngatur, tapi soal
percaya. Jadi aku nggak akan larang kamu ngelakuin hal yang bikin kamu bisa napas lega dari rutinitas — asal
kejelasannya tetap ada.
Entri 11
2026
Dan Sekarang, Melihatmu di Sini
Kalau aku bandingin foto ini sama Entri 03 — kamu yang dulu harus berjuang sendirian, drop,
sampai check up tiap bulan — rasanya kayak liat dua orang yang beda, padahal itu kamu yang sama. Sekarang aku
liat kamu kerja, berdiri tegak, percaya diri, dengan segala kerja keras dan tanggung jawab yang selalu kamu
pegang — persis seperti yang aku bilang soal Bapak kamu. Dari sini, dari titik ini, aku cuma mau bilang: aku
bangga sama perjalanan yang udah kamu tempuh sampai sekarang.
Dan karena aku udah lihat sejauh mana kamu berjuang, izinkan aku titip beberapa doa untuk langkah selanjutnya.
Bagian Lima
Untuk Kamu di
Hari yang Berat
Kalau kamu baca ini bukan hari ini — kalau kamu bukanya pas lagi capek, atau lagi
ngerasa semua terlalu berat — aku mau kamu tahu satu hal.
Kamu nggak harus selalu kuat. Kamu boleh berhenti sebentar, boleh nangis, boleh nggak baik-baik aja tanpa harus
jelasin ke siapa-siapa.
Aku tau waktu kamu capek, kesel, marah, sedih, atau lagi ngerasain hal nggak enak lainnya, kamu tetap jalan
terus — pelan-pelan, tanpa nunggu ditepuk tangani. Itu yang aku lihat dari kamu, jauh sebelum orang lain lihat.
Jadi kalau hari ini salah satu hari itu: nggak apa-apa. Aku masih di sini, dan aku masih percaya sama kamu —
bahkan versi kamu yang lagi nggak percaya diri sendiri.
Kamu nggak pernah benar-benar sendirian di titik manapun cerita ini — aku ada di setiap entri di atas, dan aku
masih akan ada di entri-entri yang belum ditulis.
— baca ulang kapan pun kamu butuh, aku nggak akan ke mana-mana